Blogroll

Selasa, 27 Maret 2012

Sekedar Celoteh


Kondisi kampus hari ini sangat jauh berbeda dari apa yang sering diceritakan para pendahulu atau orang-orang yang lebih dulu merasakan manis pahitnya menjadi mahasiswa dan telah meninggalkan aktivitasnya sebagai mahasiswa yang menyandang gelar Sarjana. Ada budaya yang kemudian hilang dalam dunia mahasiswa. Budaya baca, budaya tutur (diskusi) dan budaya tulis yang digantikan dengan aktivitas yang cenderung hedonis dan entertaint.
Mahasiswa seakan ikut arus perkembangn teknologi dan tidak berusaha untuk keluar. Fasilitas yang disediakan kampus menjadikan sebagan mahasiswa menjadi apatis dan hedonis. Dengan adanya jaringan internet menjadikan mahasiswa malas membaca buku. Terkadang tugas yang diberikan oleh dosen diselesaikan dengan copy paste.
Diskusi yang dulunya hampir kita temui disetiap sudut-sudut kampus berubah menjadi sekumpulan mahasiswa yang sibuk dengan laptop masing-masing. Dan kecenderungan mahasiswa ketika mengakses jaringan internet adalah membuka akun Facebook atau twitter, mengeluh dan berrcerita tentang kehidupan pribadi mereka. Budaya diskusi pun hilang.
Disinilah peran lembaga kemahasiswaan. Memediasi mahasiswa dan membuka ruang yang memungkinkan budaya baca, budaya diskusi dan budaya tulis bias kembali menjadi tradisi. Namun beberapa lembaga kemahasiswaan pun ikut arus, dan mengadakan kegiatan yang cenderung hedonis dan entertaint.
Di tambah lagi Kurangnya perhatian birokrasi terhadap lembaga kemahasiswaan menjadikan lembaga seakan menjadi pelengkap struktural semata. Keterlambatan dana untuk lembaga menghambat kegiatan-kegiata yang akan diaadakan.
Sebuah pertanyaan akan muncul dari realitas yang terjadi. Apakah kampus yang tidak memberikan ruang pengembangan intelektual bagi mahasiswa atau mahasiswa yang memang apatis?

0 komentar:

Posting Komentar