Blogroll

Selasa, 27 Maret 2012

FOTOGRAFI DAN BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA


Saya tidak akan menjelaskan fotografi secara detail. penjelasan lebih lengkap tentang fotografi bias anda dapat dari berbagai sumber. Melalui buku atau diinternet bermacam-macam pendapat tentang fotografi dari para ahli. Namun menurut saya fotografi bukan sekedar merekam atau mengabadikan suatu momen, tapi bagaimana gambar yang kita hasilkan melalui kamera memiliki cerita yang ingin kita sampaikan.

Teknologi yang tak kenal batas semakin memudahkan masyarakat untuk belajar dan menguasai kamera tanpa harus sekolah fotografi atau kursus sejenis. Kemajuan teknologi memang memacu fotografi secara sangat cepat. Sejak ditemukannya computer dunia fotografi mengalami perkembangan yang cukup pesat dan hampir tidak terbendung lagi. Inovasi-inovasi dilakukan oleh produsen untuk memproduksi kamera dan perlengkapannya seperti lensa mnenjadi lebih lengkap dengan fitur-fitur yang memudahkan para penggunanya dan tentunya lebihterjangkau. Saat ini, siapa pun dapat mempelajari pemakaian kamera digital. Dengan budget antara 5 hingga 8 juta rupiah, kita sudah dapat membeli kamera digital jenis SLR berkualitas bagus. Saya sendiri memiliki kamera jenis canon.

Munculnya jejaring social seperti facebook memjadikan orang lebh tertarik dengan dunia fotografi. Berlomba-lombalah mereka terjun ke dunia fotografi, bahkan tidak sedikit yang mencoba menekuninya. kursus, membeli kamera berkualitas serta lensa yang bermacam-macam, hunting foto. unjuk kualitas hasil fotonya melalui jejaring sosial, lihatlah foto baru yang diunggah ke facebook tiap harinya. dari foto pemandangan sampai foto yang menempelkan telunjuk di depan bibir. kegiatan ini tentu adalah kegiatan yang positif karena dunia fotografi memacu kita untuk mengeluarkan daya imajinasi dan kreativitas kita. Mengeksplore ide-ideyang baru dan belum pernah ada.

Tapi jangan sampai ini hanya jadi budaya masyarakat Indonesia yang suka ikut-ikutan ketika ada sesuatu yang booming, si A beli kamera SLR, lalu si B ikut-ikutan minta uang kepada orangtuanya (semoga orangtua si B mampu). Begitu seterusnya si C punya SLR dibawah ke sekolah, kekampus ke mall atau kemanasaja meneteng SLRnya. tapi sebenarnya selalu pake mode auto. janganlah kamera yg mahal dijadikan semacam tuntutan pergaulan. seseorang akan dianggap gaul jika telah menenteng SLR kemana-mana. Syukur-syukur jika kita memang menekuni dunia fotografi dengan serius, membeli kamera yang bagus, dan memperoleh penghasilan dari fotografi. ini baru jempol.

kalo cuma sebatas hobby, mulailah dari yang murah. jangan menyusahkan orang tua kita. toh gambar yang diambil dari kamera digital atau kamera handphone bisa diedit lagi dan hasilnya tidak mengecewakan. tapi memang tidak bisa dipungkiri, ketika kita akan mengambil foto dengan kamera digital atau handphone, lalu disebelah kita ada sesorang yang mengintip dari balik lensa apalagi yang 'moncong panjang', kita akan otomatis memasukan kamera atau handphone kita ke dalam saku. semacam tindakan alam bawah sadar.

jadi mengungkapkan seni foto tak mesti latah dan memakai kamera yang mahal. tenang saja, seni punya mata-mata tersendiri yang menanggapnya bagus. tak perlu ikut-ikutan, setiap orang punya aliran sendiri dalam menciptakan karya fotonya. itulah ciri khas yang membuatnya akan dikenal.

0 komentar:

Posting Komentar